​Aku tak akan pergi meski pasir yang kupijak terus dibawa lari.

Air bermain manja antara jemari,

aku berdiri menghadap matahari.

Sepi dan sendiri.

Antara hitam dan putih warna,

kucari lukismu di sana.

Pudar, seperti warna cat pada dinding kamar usang.

Tak mau aku lupa, kugores pena agar kamu ada.

Ya.

Setidaknya, aku merasa kamu ada.

Setidaknya, aku tahu kamu ada.

Setidaknya.

Setidaknya.

Setidaknya.

Posted in PAMIT, Words

PAMIT

Beriak bergulung-gulung,

pikiran kalut bertabrak ombak.

Senja tak terlihat,

tertutup kabut pada dua manik mata.

Mendung menggantung,

gerimis mulai turun,

namun pasir basah hanya karena pasang,

sedang pipi sebab berlinang.
Kamu kenapa, aku bagaimana?

Bergumul dengan luka,

berdoa,

bertanya,

bertaruh rindu pada rasa.

Berharap waktu bawa cara perbaiki semua.

Apakah sia-sia?
Angin menderu,

berseteru di telingaku,

beradu ego dengan kemelutku.

Apakah ini jawaban atas doa yang kuselip tiap malam?
Bukan sibukmu,

bukan engganmu,

melainkan aku yang tak lagi jadi alasanmu.
Lucu.

Aku tak pernah jadi alasanmu.
Nona rindu tuan acuh,

Nona pergi, akankah tuan cari?
Ah, ombak datang lagi,

bergulung manja antara jemari.

Pasir menarik, bawaku jauh dari tepi.

Inikah saatku pergi?
Aku pamit.

Tuan, aku pamit.

Kakiku melangkah semakin ke tengah,

tapi tak lihatkah tanganku terjulur ke belakang? Raihlah.