Posted in RANDOM

bukan keluarga indigo

sometime I can see ghost. then I know my brother do too. so can my sister.

ini bukan posting tentang keluarga indigo.

aku enggak bisa liat-liat masa depan, enggak bisa nyembuhin penyakit orang pake benda ajaib, enggak bisa denger suara-suara gaib. intinya, kata indigo itu jauh dari aku.

cuman, beberapa kali aku pernah liat. sekali-dua kali-tiga kali, pernah. tapi enggak terus-terusan. enggak tau pertama kali liatnya kapan, tapi aku inget banget pernah liat sesuatu pas masih batita. waktu itu masih tinggal di bangunan rumah yang dulu.

rumah yang dulu bangunannya besar. punya banyak banget kamar.

malem itu–aku inget banget–aku lagi makan snack taro di ruang tamu. pake garpu.

aku lagi duduk di sandaran tangan kursi kayu. kursi jaman bahuela yang banyak ukirannya trus bantalan duduknya enggak empuk-empuk amat. yang tiap liat kursi begituan selalu inget kursi eyang. kursi tua. kursi jawa.

ruang tamu sama dapur kebetulan sebelahan banget. cuma dipisah sekat ruangan yang bahannya dari triplek tebel. dan tempatku duduk itu depan-depanan banget sama pintu dapur.

asik banget lagi nyemil taro, tiba-tiba aku liat copong (eh, jangan disebut namanya langsung. ntar didatengin lhooo). copong itu berdiri di pintu dapur. dia tingginya se-orang tua pada umumnya gitu lah. badannya gendut. semok. mukanya nggak pake senyum, tapi enggak keliatan galak.

yaudahdeh tu copong aku tawarin makan taro. kan sapa tau dia doyan -.-

dan setelah aku tumbuh dewasa, baru aku sadar kalo copong itu…… sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh semua orang

bertahun-tahun kemudian.

aku punya adek, sepupu sih. anaknya om. keponakannya ayah.

lupa tepatnya tahun berapa, tapi waktu itu dia masih awal playgroup apa umur-umur bentar lagi masuk PG gitu. setting waktunya masih sama kayak aku: malem.

di gedung rumah yang baru. adekku tiba-tiba ribut banget pengen main, tapi enggak diizinin sama orang-orang rumah. secara udah malem biyanget. tapi dia tetep keukeuh pengen main, soalnya diajak temennya. temannya yang menurut dia seumuran.

adekku nunjuk ke arah halaman belakang. arah temen-temennya.

usut punya usut, kata ma’e, yang ngajak maen adekku yutul.

dan kemudian, kejadian baru beberapa hari kemaren. adekku yang paling kecil yang sebenernya adalah sepupuku, yang nyatanya adalah adek kandungnya adekku yang liat yutul, malem-malem masih main di halaman depan.

kebetulan malem itu di sekitar rumah emang lagi rame banget soalnya orang-orang se-RT lagi riweuh nyiapin buat lomba besok pagi. jadi tanah di sekitar rumahku itu dijadiin kebon yang isinya taneman sayur-sayuran, terong-tomat-cabe-bawang-brambang-loncang-selederi-selada, lengkapdehpokoknya.

tiba-tiba, adek kecilku itu tiba-tiba ngomong, “ayo main, ayo main.” sambil tangannya nunjuk-nunjuk dahan-ranting pohon mangga gede di depan rumah.

kata ma’e, kayaknya ada sesuatu di pohon mangga yang ngajak adek main.

dan beginilah akhir cerita ini. semoga enggak serem ya. aneh juga sih postingan pertama blog kok malah cerita hantu-yang-nggak-serem-sama-sekali. habisnya mau bikin posting perdana, tapi bingung mau nulis apa >.<

next time, tulisan yang lebih bermutu lagi ya. chiao!

Advertisements

Author:

I’m author of “Senja di Ujung Lensa” dalam Antologi Cerpen dan Foto 'Menyebrang Pada Sebuah Jendela'. diterbitkan oleh @indiebookcorner. Antologi cerpen kedua saya berjudul 'Cinta Terpendam', karya saya yang dimuat di sana berjudul “Hujan di Antara Kita“, diterbitkan oleh @mozaikindie. Cari SHARONCITARA di sejumlah sosial media untuk dapat terus berkomunikasi dengan saya. may GOD bless you and be the light! happy reading, Sharoncitara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s