Posted in RANDOM

aku mencintaimu dalam ketidak-pekaanku.

0.38 GMT +7

baru saja aku menyelesaikan revisi bab 1 tugas akhir.

sebagai mahasiswi tingkat akhir, aku baru menyadari, ternyata memang benar bahwa musuh terbesar adalah dirimu sendiri. maksudnya, malas yang ada di diriku adalah musuh paling utama yang tidak bisa kubunuh. semakin hari, semakin kuat rasa malas itu menyerang. ada banyak sekali godaan untuk tidak segera melanjutkan TA. biasanya hal itu karena aku kurang teori untuk melakukan penelitian.

sedari pukul 7 aku memfokuskan pikiranku untuk belajar. Thank GOD, materi sudah cukup aku kuasai. cukup banyak referensi yang membantuku hari ini.

setelah 5 jam membakar otak, aku memutuskan untuk menyelesaikan ‘belajar’ku hari ini. cukup! lelah ‘pala adek, bang! biasanya aku akan berkata seperti itu.

aku mengecek ponselku, tidak jauh dari netbook. tidak ada notif apa-apa, bahkan dari group WA yang biasanya ceriwis banget. group WA yang isinya kesayangan-kesayangan aku. lalu aku teringat, tadi pagi ada bahasan tentang instagram Gumi. shoot on the point, aku langsung kepo.

posting fotonya collage dari berbagai kegiatan anak-anak IKMM 2012. tidak ada yang aneh, biasanya Gumi juga memposting foto-foto sejenis. lalu apa yang menjadikannya spesial?

lalu aku melirik bagian caption-nya…

just realized that now is the time we must grow up and be mature and lift up the life. for our family’s sake………………

akhir tahun 2012 adalah awal pertemuan kami. dan semenjak Maret 2013, kami disatukan dalam sebuah ikatan. banyak yang kita lakukan agar bisa terus sejalan. bukan tanpa cacat, bukan tanpa cela kedekatan kami. pada mulanya begitu banyak konfrontasi yang terjadi. pertengkaran, perselisihan, bahkan keputusan untuk memisahkan diri pun pernah ada di antara kami.

tapi kami tidak mau kalah dari keadaan. satu per satu, dengan penuh kedewasaan dan tekad yang kuat untuk memulai perubahan, kami bergerak. satu demi satu tangan kami saling menggandeng, jemari saling mengait. kami tahu, angin semakin kencang berhembus di depan. mungkin badai.

dan itu benar.

ketika kami sudah satu tubuh, tidak hanya badai yang datang. air bah datang menenggelamkan semangat kami. gempa bumi dasyat berusaha untuk merubuhkan kami hingga ke akar. kembali, satu per satu semakin lelah untuk bertahan. tapi kali ini, apa yang datang justru membuat genggaman tangan kami semaki erat. setidaknya kami sudah pernah memiliki pengalaman demikian.

serbuan caci, hinaan, stereotype, dan ketidakpercayaan menerpa. bahkan meniadakan suara kami. suara kami tak lagi didengar.

semua yang kami lakukan adalah salah dan tidak patut dicontoh, kata mereka.
tapi bukan kami jika lantas tidak berusaha. meski entah masih ada telinga yang masih terbuka atau tidak, kami bersuara. berharap ada media lain yang bisa menyuarakan kami.

hanya demi satu, agar apa yang pernah salah tak lagi terulang.

sekarang kami berdiri di ujung tahun kami sebagai mahasiswa. semakin hari semakin berkurang waktu kami bertemu. dulu hampir 7 hari dalam seminggu selalu kami habiskan bersama. sekarang, untuk bersama dengannya 7 jam saja sudah usaha yang sangat luar biasa.

magang. tugas akhir. bahkan bekerja.

akhirnya, inilah waktu yang membuatku benar-benar sadar bahwa kesayangan-kesayanganku sudah mulai beranjak dewasa. kami tidak sekedar orang yang tralala-trilili kesana-kemari. satu per satu kami saling menyadarkan untuk segera membenahi nilai akademis yang sempat terbengkalai, segera mendapatkan tempat magang, segera menyusun laporan magang dan tugas akhir, segera mendapatkan gelar lalu wisuda, kemudian perlahan menata hidup yang lebih baik.

akhirnya inilah waktu yang menyadarkanku, bahwa waktu bisa datang dan memperjelas cerita hidup kita dengan indah, namun ia juga yang meniadakan cerita itu. just remember that time fades, but you won’t.

aku datang dengan hati dan pikiran sebagai anak kecil. bertindak sesuka hati dan ketidak pekaanku yang luar biasa. tapi kesayanganku memberikan pelajaran untuk memperbaiki diri.
dan aku memang masih lebih banyak diam, karena aku lebih senang menuliskan apa yang aku pikirkan. aku rasakan.

meskipun jarang sekali kuutarakan, ketahuilah bahwa.

aku mencintaimu, dari hati yang paling dalam.

ini potongan kata pengantar di TA, buat kesayangan-kesayangan aku :)
ini potongan kata pengantar di TA, buat kesayangan-kesayangan aku 🙂
Advertisements

Author:

I’m author of “Senja di Ujung Lensa” dalam Antologi Cerpen dan Foto 'Menyebrang Pada Sebuah Jendela'. diterbitkan oleh @indiebookcorner. Antologi cerpen kedua saya berjudul 'Cinta Terpendam', karya saya yang dimuat di sana berjudul “Hujan di Antara Kita“, diterbitkan oleh @mozaikindie. Cari SHARONCITARA di sejumlah sosial media untuk dapat terus berkomunikasi dengan saya. may GOD bless you and be the light! happy reading, Sharoncitara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s