Posted in RANDOM

Ditunda dulu.

Iya, ditunda dulu kita bertemunya.
Aku masih harus berlari kencang karena dikejar waktu. Kau bilang jangan sampai kalah, maka aku terus berusaha berlari kencang-kencang sekali agar tidak tersalip.
Kurasa sudah tujuh-delapan meter aku unggul darinya. Aku bisa tersenyum lebih lega.
Tapi itu belum aman, katamu. Jadi alih-alih menarik napas dalam diam, aku menundukan punggungku agar bisa menambah kecepatan.

Iya, kita tunda dulu bertemunya. Kurasa kalau rindu kita semakin besar, ada nilai yang lebih dalam untuk dapat diungkapkan.

Advertisements

Author:

I’m author of “Senja di Ujung Lensa” dalam Antologi Cerpen dan Foto 'Menyebrang Pada Sebuah Jendela'. diterbitkan oleh @indiebookcorner. Antologi cerpen kedua saya berjudul 'Cinta Terpendam', karya saya yang dimuat di sana berjudul “Hujan di Antara Kita“, diterbitkan oleh @mozaikindie. Cari SHARONCITARA di sejumlah sosial media untuk dapat terus berkomunikasi dengan saya. may GOD bless you and be the light! happy reading, Sharoncitara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s