Posted in RANDOM

terkadang aku juga ingin menyerah, tapi tulisanku sendiri yang menyerang. lalu aku sadar.

Mengapa kamu memilih untuk menyerah,
lalu kalah?

Sementara jarak kemenangan hanya berkisar antara kening dan sajadah.
hanya antara sela jari, altar, dan mezbah.
hanya antara lidi-lidi dupa,
juga pada antara lilin dan bunga.

Lalu mengapa kamu memilih untuk menyerah,
dan kalah?

Sementara di belakang punggungmu Ayah tak henti bersorak,
dan ibu terus bergumam tentang pokok-pokok doa,
tak dengar kah?

Renungkan,
dan kamu masih memilih untuk menyerah?

Tega kah?

nggak tau ini nulisnya kapan, tapi diposting gara-gara barusan maksa-maksa anak orang biar buruan nyelesaiin tanggungannya. kerjaannya. sebelum waktu membuatnya tua.
entah, orang itu terketuk niatnya atau enggak. yang penting akunya udah berusaha.
karena hal paling menyebalkan adalah melangkah sendiri sementara sesungguhnya bisa berjalan bersama.

mengapa harus berjalan depan belakang jika bersisihan pun bisa?

Advertisements

Author:

I’m author of “Senja di Ujung Lensa” dalam Antologi Cerpen dan Foto 'Menyebrang Pada Sebuah Jendela'. diterbitkan oleh @indiebookcorner. Antologi cerpen kedua saya berjudul 'Cinta Terpendam', karya saya yang dimuat di sana berjudul “Hujan di Antara Kita“, diterbitkan oleh @mozaikindie. Cari SHARONCITARA di sejumlah sosial media untuk dapat terus berkomunikasi dengan saya. may GOD bless you and be the light! happy reading, Sharoncitara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s