Posted in RANDOM

About marrying this right man.

image

Dan pada akhirnya perempuan penyendiri ini menemukan lelaki yang sepadan dengannya. Tidak hanya mencintai apa adanya, kurang lebihnya, melainkan juga menuntut agar hubungan di antara keduanya selalu maju. Bergerak ke depan. Meski hanya perlahan, asal tidak jalan di tempat atau bergeser ke belakang.
Dan ternyata dilamar itu bikin sedih. Tidak seslengean lagu Marry You, tidak sememaksa Rude, tapi lebih manis dari Marry Your Daughter.
.
.
.
Ya, apalah. Later or sooner, akan ada waktu yg membuat saya bisa merasakan hal tersebut. Mengiyakan atau menyangkal pernyataan-pernyataan di atas.
Yep, later or sooner.

Well, jadi, buat yg sempet kepikiran kalau saya mau nikah dekat-dekat ini, jawabannya adalah belum. Ehm. Belum ada calonnya. Itu masalah utamanya 😰

Jadi, begini…
Postingan ini dibuat atas dasar update saya di salah satu media sosial. Chat media, sih, sebenernya.

Ada yg lebih menyeramkan dari Mama minta pulsa atau Papa minta saham.
.
.
Papa minta cucu.

Cerita ini bermula dari..

Saat ini saya berumur 22 tahun. Yes, officially naik pangkat beberapa minggu lalu. Tiga bulan lalu saya diwisuda dengan predikat cum. Jadi, bisa disimpulkan, sekarang kehidupan telah naik 1 tahap lebih complicated.

Seperti fresh-graduated lainnya setelah wisuda, saya gemar memasukan application ke perusahaan-perusahaan yg sekiranya membuka lowongan yg requirement-nya pas bagi saya. But unfortunetally, sampai sekarang masih belum rezeki buat berkarya di sana.
Nah, sembari menunggu konfirmasi dari lamaran-lamaran kerja lainnya, saya memutuskan untuk mengisi waktu luang dengan kegiatan-kegiatan yg produktif. Salah satunya adalah, menulis. Dalam waktu 55 hari, saya menyelesaikan draft 1 naskah ECCEDENTESIAST. Sudah termasuk editing & proofing. Saking produktifnya! Nanti banget nih, mau ngirim naskahnya ke penerbit. Dan sekarang lagi nyusun naskah kedua, judulnya PETRICHOR.
Tuh, kan, produktif banget!

Anw, saya biasanya menulis di rumah. Kadang-kadang ke Jco, itupun kalau lagi dikasih uang jajan dan ada yg ngajakin keluar. Jadi, most of the time, saya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Terutama kamar tidur yg merangkap sebagai ruang kreatif saya (mau bilang ruang kerja, tapi nggak cocok).

Mungkin karena melihat saya yg jarang keluar rumah. Jarang pergi main sama temen (pun kalo keluar kan yg ngajak Fei ato Ros). Dan pada akhirnya mengecilkan probabilitas saya menemukan ‘hati’ baru. Perlahan tapi pasti, ayah mulai insecure dengan ke-single-an saya.

Okay. Saya jadi ngerasa super bersalah pada tahap ini.

Kalau cuman rewel karena masalah saya yg nggak ‘gek’ punya pacar sih nggak terlalu dipikir sih yaa. Secara beliau emang udah rewel dari lama kalo ttg ini.
Tapi semenjak lulus kuliah, beliau rewelnya jadi lain.
Nggak cuma kode, tapi udah literally nyuruh saya nikah. Nyuruh buruan ngasih cucu. Padahal kan beliau tau sendiri kalo anaknya masih belum bisa ngenalin siapa-siapa.
Hft.
Di tahap ini, perasaan saya nambah dari merasa bersalah jadi kelebihan sedih tapi juga sebel.

Hampir tiap hari ditanyain ttg pacar-nikah-cucu, belum lagi nasihat-nasihat ttg berumah tangga & parenting. Oke, kalo yg terakhir itu, terimakasih sekali, saya jadi punya pengetahuan lebih banyak dan menambah nilai istri-able dalam diri saya 😝
But wait, timing-nya masih belum pas iniiiih..

Dear parents, terutama ayah yg getol banget nyuruh anaknya nikah..
Berbicara tentang pernikahan, mungkin saya siap. Tergantung dengan siapa saya akan mempercayakan lelaki di balik kemudi ini. Tapi untuk sekarang, saya masih belum bisa dikatakan sepadan dengan siapa-siapa. Saya masih harus bekerja. Saya masih belum bisa dikatakan dapat hidup mandiri. Saya juga belum bisa memberikan apa-apa sama ayah dan ibuk. Saya pun juga masih perlu memantaskan diri untuk seorang lelaki di luar sana, yg sekarang juga sedang memantaskan diri.
Ayah jangan khawatir, saya akan menikah. Tapi tidak dalam waktu dekat. Ayah tolong sedikit lebih sabar, ya 🙂

Oiya, tadi saya sempat membuka album-album foto pernikahan ayah & ibuk. Have no idea kenapa saya tiba-tiba menangis sebentar.
Upacara pemberkatan di gereja. Sungkeman. Resepsi. Upacara boyongan.
Tiba-tiba sedih. Later or sooner, saya yg ada di posisi seperti itu.
Just wondering gimana perasaan saya, ayah, sama ibuk ketika peristiwa itu benar-benar terjadi.:'(
Kadang kala pengen tanya sama ayah atau ibu, gimana caranya tau kalau he’s the right person. Seperti apa rasanya. Gimana cara ngerasainnya. Dan masih banyak jenis-jenis pertanyaan serupa yg intinya sama: about marrying this right man.
Karena menikah kan nggak pakai intuisi. Tapi pakai…. hmm, saya nggak ngerti juga pakainya apa, makanya tanya.
Kalau di pikiran saya, sih, menentukan akan menikah dengan siapa, lebih dari sesuatu yg dinamakan cinta, ada yg kita kenal sebagai iman. Sebelum mengatakan iya, saya dan dia harus yakin bahwa kami dapat tumbuh bersama. Saya dapat mengandalkan dia dan dia pun percaya dengan saya.
Teorinya, sih, seperti itu.

Ini kok malah jadi ngelantur jauh ya?

Well, ternyata sudah terlalu larut. Ehm, hampir subuh sebenarnya. Waktu tidur saya terpotong banyak karena curhatan ini. Yagapapalah.
Anyway, selamat pagi! Hello December, hello you! Christmas is coming closer and ayah can’t stop getting older. Bulan ini beliau genap 60 tahun. I can’t believe it!
Well, good night (morning), then.

Advertisements

Author:

I’m author of “Senja di Ujung Lensa” dalam Antologi Cerpen dan Foto 'Menyebrang Pada Sebuah Jendela'. diterbitkan oleh @indiebookcorner. Antologi cerpen kedua saya berjudul 'Cinta Terpendam', karya saya yang dimuat di sana berjudul “Hujan di Antara Kita“, diterbitkan oleh @mozaikindie. Cari SHARONCITARA di sejumlah sosial media untuk dapat terus berkomunikasi dengan saya. may GOD bless you and be the light! happy reading, Sharoncitara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s