Posted in Words

Bagaimanapun Juga.

Terbangun kau karena secangkir kopi yang baru saja kuseduh.
Wangi.
Kabut putih terbang tertiup angin,
menari-nari di ujung cangkir lalu perlahan hilang bersama udara.
Sambil tersenyum,
kucoba tawarkan satu untukmu.
Pula, kucoba lupa pada pertengkaran kita malam lalu.
Mengangguk pelan, dan aku berlalu membuatkan lagi satu.

Kabut putih itu muncul lagi.
Di permukaan cangkir lain, ia menari.
Berkelak-kelok lalu menyambut udara,
pergi berdua.

Kurasa mereka sama seperti kita.
Aku tidak berbuat banyak karena melihatmu begitu bahagia.
Lebih bahagia.

Kau,
sambutlah udara, dan menarilah bersamanya.

Bagaimanapun juga, itu yang membuatmu lebih bahagia.

Advertisements

Author:

I’m author of “Senja di Ujung Lensa” dalam Antologi Cerpen dan Foto 'Menyebrang Pada Sebuah Jendela'. diterbitkan oleh @indiebookcorner. Antologi cerpen kedua saya berjudul 'Cinta Terpendam', karya saya yang dimuat di sana berjudul “Hujan di Antara Kita“, diterbitkan oleh @mozaikindie. Cari SHARONCITARA di sejumlah sosial media untuk dapat terus berkomunikasi dengan saya. may GOD bless you and be the light! happy reading, Sharoncitara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s