Posted in RANDOM

Dear Mom and Dad, mengapa saya tidak diizinkan memilih pekerjaan sesuai keinginan saya?

Merasa familiar dengan perasaan di atas?

Mungkin dulu semasa SMA pernah merasa hal yang senada, misal, ketika penjurusan. Atau repetasi ketika kelas 12 ketika kamu interest untuk melanjutkan studi di Fakultas A tapi orang tua pengennya (buruknya, kemudian memaksa) untuk kamu lanjut ke Fakultas B. Dan, berbahagialah kamu jika tidak mengalami peristiwa-peristiwa tersebut di atas.

Tapi, jangan senang dulu! Mungkin suatu hari nanti, selepas habis masa studimu di perkuliahan dan melanjutkan ke dunia kerja yang sesungguhnya, mungkin kamu akan mengalami hal ini:

Ditentukan masa depan karirnya.

It’s good, jika karir yang orang-orang tentukan terhadap kamu adalah karir yang sesuai dengan passion dan interest kamu. Misal, kamu memang suka dengan angka-angka lalu orang tua (setengah atau sepenuhnya) memaksa kamu untuk bekerja di bidang analytic atau accounting. Itu bagus.
Misal, orang tua kamu kepengen jadi PNS tapi waktu beliau-beliau muda nyoba tesnya bertahun-tahun tapi nggak pernah lolos, lalu mereka menyuruh kamu untuk harus daftar CPNS dan nggak peduli walaupun kamu nggak ngerti sama bidang kerjanya tapi karena kamu orangnya kepengen santai tapi bergaji lumayan makanya dari awal narget buat apply CPNS. Nggih, monggo. It’s good for you too, anyway!
Atau misal, kamu lahirnya Rebo Legi, berarti kamu cocok kerja di air.

Well, it’s good, but how if…..
sebenernya kamu punya ‘pekerjaan impian’ yang pada kenyataannya bertentangan dengan harapan orang tua?
Let’s say, kamu punya idealisme tersendiri tentang memilih suatu pekerjaan. Kamu berpikiran bahwa pekerjaan yang ideal untuk dirimu adalah A, B, C, D, dan seterusnya. Kamu pengen bekerja sesuai dengan passion dan interest-mu, tapi jika demikian, it means keinginanmu dan orang tua bertolak belakang. Apakah salah bekerja sesuai dengan yang diinginkan?

Well, itu nggak salah, kok. Nggak ada hukum yang melarang seseorang untuk memiliki sebuah pekerjaan yang diidam-idamkan. Yang salah adalah, ketika kamu mengharapkan sebuah pekerjaan yang kamu idam-idamkan tapi kamu tidak berbuat sesuatu untuk meraihnya. ITU, salah besar! BESAR!

Tahukah kamu, kalau pekerjaan baru yang muncul selama kurun 10 tahun terakhir adalah pekerjaan yang tidak pernah terprediksi akan ada di tahun-tahun sebelumnya.
Ini bukan saya yang ngarang lho, tapi saya dengar sendiri dari sebuah acara di stasiun TV swasta nasional. Dulu ketika saya kecil, setiap kali ditanya “Kalau udah besar, mau jadi apa?”, jawabannya pasti standar… dokter, presiden, pilot, tentara.
Kalau sekarang, opsi pekerjaan semakin bertambah untuk dipikirkan matang-matang. Mungkin kalau angkatan adik saya akan muncul jawaban baru, misal, “Besok aku mau jadi YouTube-er” atau “Mau jadi fashion/travel/food blogger” atau “Mau jadi ice cream tester sambil sesekali jadi roller coaster tester” atau “Panda huger di China” dan masih banyak mau-jadi-apa lainnya.

Nah, kalau kamu memang pengen bekerja sesuai dengan yang kamu idam-idamkan, sesuai dengan minat dan passion kamu, yaaa work for it!

Usahakan dengan sungguh-sungguh keinginan itu. Jangan setengah-setengah, lah.

Asah kemampuanmu, terus berkarya. Kunci utama berkarya adalah tidak mudah menyerah. It’s okay, di awal kamu berkarya nggak banyak orang yang notice. But, keep up your work. Sambil terus berkarya, sambil belajar dan menemukan identitasmu sendiri.

Hal yang paling meresahkan ketika memutuskan bekerja sesuai idealisme sendiri adalah ketika lama belum menemukan pekerjaan yang tepat, dan di saat itulah, berbagai tekanan mulai muncul dari segala sudut, segala sisi, segala-galanya deh. Saran saya… yang sabar aja. Semua akan indah pada waktu-Nya karena pertolongan dari Dia tidak pernah datang terlambat. Tetap imani apa yang telah kamu yakini sebelumnya.
Karena ketika Sang Empunya Hidup melihat bahwa kamu sudah siap untuk di tempatkan di sana, maka terjadilah.
Makanya, pantaskanlah dirimu sebelum datang waktunya. Istilahnya, bikin portfolio yang bagus, lah yaaa..

HAH!

Sepertinya sekian dulu posting dari saya, semoga kalian yang membaca postingan ini mendapatkan pencerahan karena sesungguhnya saya juga nggak ngerti barusan nulis apa. Maklum, kepala habis kepentok pojokan mesin jahitnya ibuk, jadi yaa ngefeknya seperti ini~~~~~
*ngulet*

Akhir kata, please support kami dengan follow blog ini, like, share, dan comment. Karena dengan support kalian, kami akan lebih semangat dalam berkarya.

May GOD bless youuuu!
Sharoncitara.

Advertisements

Author:

I’m author of “Senja di Ujung Lensa” dalam Antologi Cerpen dan Foto 'Menyebrang Pada Sebuah Jendela'. diterbitkan oleh @indiebookcorner. Antologi cerpen kedua saya berjudul 'Cinta Terpendam', karya saya yang dimuat di sana berjudul “Hujan di Antara Kita“, diterbitkan oleh @mozaikindie. Cari SHARONCITARA di sejumlah sosial media untuk dapat terus berkomunikasi dengan saya. may GOD bless you and be the light! happy reading, Sharoncitara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s