Posted in RANDOM

#BloggerMelawan | Rencana KEMENKOMINFO memblokir ratusan situs, untuk kebaikan siapa?

Sebenarnya malam ini mau posting tentang MAIL TIME!, tapi karena baru saja membaca kicauan Bang Alitt (@shitlicious) tentang aksi KEMENKOMINFO yang berencana memblokir Tumblr dan 477 situs lainnya, saya jadi tergerak untuk ikut beropini mengenai masalah ini.

Sebelum mengulas hal ini lebih dalam, ada baiknya kita membaca berita-berita yang viral di media untuk dijadikan referensi dan dasar ulasan. Berikut beberapa contoh artikel yang saya baca:
BBC | Kemenkominfo blokir Tumblr karena dituding sebarkan pornografi
Detik | Banyak Pornografi, Tumblr Dibolkir Kominfo
Okezone | Jika Membandel, Kominfo Ancam Cabut Izin Line & Twitter
Okezone | Berkonten Pornografi, Kominfo Blokir Tumblr

Sebelum pemblokiran ini ramai dibicarakan, langkah KOMINFO yang juga menyita perhatian masyarakat adalah pemberian peringatan kepada LINE dan FACEBOOK karena kedua platform tersebut menyediakan stiker yang mendukung LGBT.
Beberapa waktu lalu, Line mengeluarkan stiker yang dapat diunduh gratis bergambar dua orang lelaki dengan gimmick-gimmick ‘afeksi lebih dari sekedar sahabat’. Cukup mengagetkan.
Namun untuk sticker di Facebook, saya belum pernah lihat, karena saya jarang sekali membuka akun di media tersebut. Sekalinya buka, saya langsung mengakses permainan di sana. Jadi, saya tidak bisa memberikan banyak komentar.
Kabarnya, stiker-stiker ‘berbau’ LGBT tersebut sudah dihapus.

Kemudian, pekan ini, netizen kembali dihebohkan dengan langkah KOMINFO karena berencana memblokir 400++ situs yang dianggap menyebarkan konten pornografi. Dan yang paling heboh adalah rencana pemblokiran Tumblr yang diduga kuat menyebarkan konten tidak baik tersebut. Tapi apakah langkah yang KOMINFO ambil ini merupakan langkah yang tepat? Efektifkah? Efisienkah?

Straight to the point: saya rasa TIDAK!
Saya setuju dengan analogi yang dipaparkan oleh Bang Alitt, bahwa langkah pemerintah ini dapat diibaratkan demikian: Di bus ada 1 teroris. Kemenkominfo ledakin busnya. Nggak peduli ada banyak orang biasa.
Ya, benar teroris di dalam bus tersebut akan mati. Tapi bagaimana dengan nasib orang lain yang innocent? Lantas apakah terorisme di dunia akan mati hanya dengan mematikan 1 teroris saja? Apakah di masa depan, apakah tidak ada kemungkinan terbentuk teroris baru (yang bisa saja digunakan untuk menggantikan peran teroris yang baru saja mati diledakan tersebut)?
Kalian bisa menerka jawabannya sendiri.

Kembali ke masalah Tumblr.
Jika situs (platform) tersebut sudah diblokir, maka tidak menutup kemungkinan situs-situs lain sejenis juga bernasib sama. Sebut saja: wordpress (seperti yang saya gunakan sekarang), blogspot, dan penyedia blog-penyedia blog lainnya.
Tumblr diblokir karena banyak aduan yang menyatakan situs tersebut menyediakan banyak konten berbau pornografi.

Tumblr, WP, dan Blogspot adalah contoh blog-blog pribadi (yang upgrade-able) yang dapat digunakan dengan mudah untuk memposting berbagai macam konten. Mulai dari gambar, video, file, dan text biasa.
Tapi apakah semua konten yang diposting ke dunia maya melalui website tersebut berbau pornografi? Seberapa besar prosentase konten porno dibandingkan konten biasa (normal/sehat)?

Padahal kita tahu, banyak penggiat bisnis online memasarkan produk-produknya menggunakan blog pribadi melalui website tersebut. Alasannya simple, mudah digunakan dan menyediakan layanan blog gratis.
Bisnis onlinenya pun beberapa pasti sudah besar. Sudah well-known. Sudah mendapatkan ‘tempat’ di kelas pasarnya.
Lalu jika website-website tersebut diblokir, bagaimana nasib penggiat bisnis online?
Okelah, sudah banyak penyedia ‘lapak online’ di Indonesia. Tapi membuka ‘lapak baru’ tidak semudah membalikkan telapak tangan kaki gajah.

Selain itu, blog pribadi merupakan media berekspresi.
Media yang pas digunakan untuk menuliskan curhatannya. Perasaan senang, sedih, marah, kecewa, sakit hati, dan jutaan emosi lainnya dapat dengan mudah dituangkan dalam blog. Blog juga digunakan untuk berbagi berita. Apakah itu salah? Apakah melanggar?

Saya pribadi menggunakan blog untuk curhat. Untuk berbagi informasi mengenai proses menulis saya (baik novel, cerpen, atau project lainnya). Saya juga membagi gratis beberapa karya saya melalui blog (misalnya HALOGEN, PROLOG, dan beberapa bab draft novel di blog lama saya). Blog merupakan media berkspresi yang paling saya senangi, karena bagi saya ruang ekspresi blog sangat luas. Saya bisa bebas menyalurkan ide dan karya.

Seolah di tanah lapang yang luas, saya boleh bebas menari dengan hujan. Tidak peduli orang lain mencibir apa. Kalau tidak suka, boleh berlalu atau katakan saja. Kalau suka, mari menari bersama.

Jujur saja, jika pemblokiran ini terus terjadi, saya merasa media berekspresi semakin dibatasi oleh negara. Apakah kita akan kembali ke Orde Baru?

Berbicara pornografi, entah mengapa saya selalu melihatnya sebagai bisnis besar dan lahannya selalu ‘basah’. Tapi bisnis ini bukan bisnis permukaan. Mainnya jelas underground. Dan yang kini terlihat di permukaan, hanyalah segelintir dari yang sebenarnya eksis. Maka, apakah pemblokiran adalah langkah yang efektif?

Di artikel yang link-nya sudah saya tautkan di atas, menyebutkan bahwa pihak kominfo pun menyadari bahwa pemberantasan pornografi ini tidak bisa dilakukan hanya dengan mengambil langkah pemblokiran semata. Nah, kan!
Kembali lagi, ini bisnis underground yang luar biasa basah. Untuk masalah bawah tanah itu, saya kembalikan saja lah ke pemerintah. Kan, negara punya BIN atau badan sejenis lainnya yang lebih ahli. Saya mah apa atuh, just a speck of dust within a galaxy. Saya percaya mereka bisa menangani yang terbaik.

Sebentar kita renungkan dahulu, apakah ada langkah lain yang bisa diambil (selain pemblokiran)?

Dulu sewaktu kuliah, saya selalu diingatkan oleh dosen-dosen saya, kalau ingin pasar mengetahui dan mengingat produkmu, jangan hanya semata-mata me-displaynya di toko, jangan hanya memajang gambarnya di TV atau media sejenis, tapi lakukan juga pemberian informasi lengkap kepada masyarakat mengenai keunggulan produk (syukur-syukur diinformasikan juga kekurangan produk beserta cara mengatasinya).
Dalam hal ini produknya adalah anti pornografi,
dan pemberian informasi yang bisa ditempuh adalah mengedukasi masyarakat.

Sekarang kita buat kelas pasar (masyarakat) dalam range usia: balita, anak-anak, remaja, dewasa muda, dewasa, lansia.
Kelas masyarakat latar belakang pekerjaan: tidak bekerja, pelajar, mahasiswa, sudah bekerja, pensiunan. (Biar gampang, saya klasifikasikan demikian saja)

Asumsi ini saya buat tanpa disertai data lengkap:
Dari kelas-kelas yang sudah dibuat di atas, kita sebut target empuk ‘new user’ dari bisnis pornografi adalah remaja dan pelajar (jika melihat perkembangan teknologi saat ini, bisa kita tambah kelas anak-anak). Apakah asumsi saya masuk akal?
Lalu, masuk akal juga kah kalau saya keluarkan pernyataan “anak sekarang mah, semakin dilarang, semakin penasaran. Kalau udah penasaran, malah makin cari tau buat ngerti apa yang dilarang.”?

Lalu sebaiknya bagaimana?
Kita bisa coba mengambil langkah sosialisasi.

What?! Hanya sebatas sosialisasi? Apa mereka mau mendengarkan?
Well, konsep sosialisasinya juga harus disesuaikan dengan trend kekinian dooong..
Kalau hanya sebatas berbicara di depan sekelompok remaja, mungkin tidak banyak yang akan 100% mendengarkan meski saya akui langkah ini tetap harus dilakukan dengan penyesuaian konsep acara (of course!).

Indonesia mempunyai banyak sekali ‘penggiat’ internet yang karyanya sudah santer di dunia maya. Ajaklah mereka untuk memberikan konten-konten positif. Konten edukasi yang menyatakan bahaya akan pornografi. Konten edukasi yang menyatakan bahwa ada hal lain (dan positif) yang dapat dilakukan untuk menyalurkan energi, selain untuk mengakses website-website berbau pornografi. Ya kan?

Jika maksudnya baik, pasti para creator juga akan memberikan ide & karyanya yang terbaik. Jika setuju, tunggu saja, dalam waktu dekat pasti akan muncul video-video edukatif dari para YouTube-er, artikel-artikel menarik dari blogger (sebelum blognya diblokir), lagu-lagu bagus yang dapat diakses secara gratis melalui soundcloud atau bisa dibeli di iTunes, gambar-gambar (mungkin poster, banner, etc) berisi ajakan anti pornografi yang eye-catching, daaaaannn berbagai macam creator dari berbagai media sosial. Halus, berkelas, dan ‘menyerang’ dari berbagai aspek.

Lagian, yang salah, kan, bukan platformnya, tapi user-nya. User yang me-upload kontennya, dan berimbas pada user yang dapat dengan mudah mengkases konten tersebut. Jadi, ya, menurut saya, yang perlu di-prevent adalah user behavior-nya.

Saya percaya kok, orang-orang yang bekerja di Kementerian Komunikasi dan Informasi pasti memiliki skill baik untuk berkomunikasi. Tidak hanya sekedar menutup, tapi juga menjelaskan (yaaa, better dijelasin sebelum ditutup sih. Jadi orang-orang ngerti kenapa ditutup).
Bapak Ibu Kominfo juga boleh kok ngajak saya berkomunikasi, saya mau kok kalau diajak mengedukasi masyarakat. Mau dibikinin script, siap. Mau dibikinin cerpen atau novel…. emmm, siap juga. Nanti saya pikirin deh konsep ceritanya :p
Mau minta tolong dibikinin acara-acara sosialisasi anti pornografi, ayoook.. kita godog konsepnya bareng-bareng. *nature calling anak event*

Pokoknya mah, kalo Bapak Ibu Kominfo minta tolong, saya siap bantu.. Apalagi kala Pak Rudiantara sendiri yang mengutus.. gercep ini gerecep~

______________________________________________________________

Hmmmmm, yasudahlah.. sekian ulasan saya. Ini murni pemikiran saya dan beberapa netizen yang menyuarakan kicauannya di Twitter. Saya nggak ngeti apakah paparan saya di atas melanggar UU ITE atau tidak (mengingat ada kemungkin pihak lain yang tersinggung karena tulisan halus saya), tapi jujur Pak-Bu, ini curhatan kami (saya). Masa orang curhat dilarang? Masa orang beropini dibungkam? Toh, saya nggak menjelek-jelekan pihak manapun. Kalau ada yang tersinggung, mungkin artinya, ada beberapa aspek yang perlu diperbaiki. Setuju?

Akhir kata, please support kami dengan follow blog ini, like, share, dan comment. Karena dengan support kalian, kami akan lebih semangat dalam berkarya.

May GOD bless youuuu!
Sharoncitara.

PS: Sampai blog ini diposting, saya masih bisa mengakses tumblr.

Advertisements

Author:

I’m author of “Senja di Ujung Lensa” dalam Antologi Cerpen dan Foto 'Menyebrang Pada Sebuah Jendela'. diterbitkan oleh @indiebookcorner. Antologi cerpen kedua saya berjudul 'Cinta Terpendam', karya saya yang dimuat di sana berjudul “Hujan di Antara Kita“, diterbitkan oleh @mozaikindie. Cari SHARONCITARA di sejumlah sosial media untuk dapat terus berkomunikasi dengan saya. may GOD bless you and be the light! happy reading, Sharoncitara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s