Posted in MAIL TIME!

Keracunan Donat Jepang (” -..-) | MAIL TIME! #3

Hey yoooo~
Whazzapppppppp?! *gayanya sok asik gitu, padahal ekspresinya lempeng-lempeng aja*

MAIL TIME! kali ini saya mau membahas tentang ketololan diri sendiri (yang untungnya terhindarkan dari malapetaka. THANK GOD!)

Jadi, ceritanya begini..
Kalau kalian sudah membaca MAIL TIME! #1 tentang postcard-postcard lucu dari Rumi, ini semacam sekuelnya..
Di awal tahun ini, Rumi mengirim kado natal & tahun baru.. ada surat, postcard, dan masker jepang (kapan-kapan saya tuliskan review-nya).
Saya pikir cuma itu doang, tapi ternyata, beberapa hari kemudian (well, rentang jarak waktunya sampe mingguan sih sebenernya) datanglah sebuah paket dari Jepang.. dari Rumi juga, yang isinya berbaaaaaagaaiii macam snack asli Jepang.WOW!

Isinya ada chiki-chikian (rasanya emang campuran antara chiki sama snack gulai ayam), wafer berlapis rice crispy dan coklat tebal (bukan Beng-Beng, lho yhaaa), snack taro alias talas, wafer yang rasanya kayak campuran cinnamon-and something (yang ini nggak doyan, jadi nggak terlalu inget rasanya), dan yang terakhir… yang bikin ketololan saya menambah beberapa level… adalah DONAAATT !!

Ada apa dengan donat?

Jadi, ketika paket tersebut tiba di rumah, saya langsung menyantap wafer dan chiki-gulai ayam. In fact, wafernya langsung direbut adek saya yang umur 3 (eh, atau udah 4, ya?) tahun ituu.. Kalo yang chiki, saya bagi 2 sama adek saya yang SMA. Kedua makanan tersebut mendapat penilaian 4 of 5 dari saya. Karena rasa coklatnya juarak!! dan bumbu chikinya menggoyang lidah. MSG-nya ntap deh!

Agak siang, karena lapar tapi belum kepengin makan berat, saya memutuskan untuk membuka donat. Dari tampilannya, donat tersebut berkilauan buttery gitu. Ketebalan kue (roti?)-nya mencengangkan karena berbeda dengan donat yang biasa dijual di pasaran. Meski tanpa topping, donat ini tetap punya daya tarik tersendiri. Menggoda banget buat segera disantap.

Seperti biasa kalau saya mau pakai produk (apapun), saya liat dulu tanggal produksi atau tanggal kadaluarsanya. Daaaaaaaaannnnnnnnnnnn.. terorerroooottt jeng JENG !!
Ternyata eh ternyata, donutnya sudah expired sejak 3 hari yang lalu. WHAT?!

Langsung saya mikir, “wah, berarti tanpa pengawet beneran, nih, buktinya kadaluarsaya cepet banget. Bagus!”
Tapi saya masih nggak percaya kalau makanan di tangan saya itu sudah berhari-hari melewati tanggal kadaluarsa. Saya lihat permukaan donatnya, masih mulus dan berminyak seperti makanan fresh pada umumnya. Di seluruh sisinya pun belum ditumbuhi jamur, beda dengan roti-rotian yang biasa kita beli di supermarket atau minimarket, lewat sehari aja udah banyak jamur warna hijau-hijau coklat gitu kan?
Tapi yang ini, BERSIH!

Saya buka lah bungkusan donat itu. Saya coba endus-endus (setelah meyakinkan diri kalau after effect-nya nggak akan sampai bikin muntah), eh baunya masih wajar. Nggak ada bau nya malah. Cuma bau donat biasa tapi soft banget. Nggak ada bau tengik atau bau-bau nggak sedap lainnya.

Setelah menghimpun fakta-fakta di atas, timbullah keinginan untuk memakan donat tersebut. Toh, belum berjamur dan belum bau. Saya pikir, itu bukan masalah yang besar.

YOLO. You Only Live Once.

Belum tentu di masa mendatang bakal makan donat kayak gini lagi kaaan?
Dan akhirnya dengan penuh percaya diri dan disertai doa yang tiada berhenti,
masuklah donat tersebut ke dalam rongga mulut saya.

ENAK!

Tapi saya masih was-was… bagaimana kalau nanti saya keracunan?
Sakit perut mah masih nggak pa-pa.
Lah, kalau trus diarrhea trus masuk rumah sakit karena kekurangan cairan dan pocari sweat tidak bisa menolongku. gimana?
Okay, itu lebay. But the possibility is true, isn’t it?

Untunglah, saya ini orangnya tangguh. Perut saya sering ngeyel dan sudah terlatih makan sari roti yang udah basi.
Another fun fact, beberapa hari sebelum makan donat basi, saya 2 kali (dalam kurun waktu yang berbeda), sarapan pakai roti tawar yang udah lewat tanggal kadaluarsanya karena kelaparan dan adanya 2 slices terkahir roti itu. Alhasil, mencuil bagian yang sudah ditumbuhi jamur dan memakan bagian yang kelihatannya masih baik. Dari dua kejadian itu, perut saya selamat tanpa mulas, apalagi diarrhea.
Dan dengan suksesnya melewati prosesi donat basi tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa saya 3 kali sukses makan makanan basi. YEIY!!
*entah kenapa, saya bangga *but, yes, you have to be proud of me

Oke, sekian MAIL TIME! minggu ini.. kayaknya saya lagi sakit perut karena habis makan makanan yang belum basi.

14540408042921454041197750

Akhir kata, please support kami dengan follow blog ini, like, share, dan comment. Karena dengan support kalian, kami akan lebih semangat dalam berkarya.

May GOD bless youuuu!
Sharoncitara.

Advertisements

Author:

I’m author of “Senja di Ujung Lensa” dalam Antologi Cerpen dan Foto 'Menyebrang Pada Sebuah Jendela'. diterbitkan oleh @indiebookcorner. Antologi cerpen kedua saya berjudul 'Cinta Terpendam', karya saya yang dimuat di sana berjudul “Hujan di Antara Kita“, diterbitkan oleh @mozaikindie. Cari SHARONCITARA di sejumlah sosial media untuk dapat terus berkomunikasi dengan saya. may GOD bless you and be the light! happy reading, Sharoncitara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s