Posted in RANDOM

Bapak Penjual Es Kadho yang Perhatian.

Saya ini suka jajan cemilan yang aneh-aneh. Mulai dari jajanan dengan bentuk makanan/minuman, packaging, atau rasanya yang aneh sampai jajanan SD yang kadang bikin mikir “emmm, ini bahan-bahan pembuatnya sehat enggak ya? proses masaknya bersih nggak ya?”. Intinya, saya ini sebenernya doyan ngemil.

Doyan ngemil ini tidak semakin surut setelah saya rampung kuliah. Karena rumah saya terletak di dalam kampung yang ramai oeh anak kecil dan diapit oleh 7 sekolah dasar (well, kabarnya 4 SD yang terletak dalam 1 kompleks sudah menyatu menjadi 11 instansi… tapi entahlah, itu hoax atau fakta.), maka di jalan depan rumah saya sering dilewati oleh penjaja-penjaja camilan SD yang murah dan unik.

Dan saya adalah salah satu pelanggan setia Es Kadho.
Basically, itu adalah es berbentuk bar yang dibungkus dengan kertas kado. Potongan es tersebut ditusuk dengan sebuah lidi panjang. Cara memakannya dengan dicelupkan ke cairan coklat (atau gula jawa?) atau dimakan polos nan original tanpa selimut coklat.
Dinamakan Es Kadho karena es tersebut dibungkus oleh kertas kado. Ya, namanya Es Kadho dengan huruf ‘h’ di tengah. Ditulis apa adanya seperti yang tercetak di ice box Bapak penjualnya.

Beberapa hari yang lalu saya membeli Es Kadho cukup banyak. Well, tidak terlalu banyak sih, tapi cukup membuat Bapak penjualnya tersenyum senang karena jajanan yang dijualnya hampir habis.

Entah ada angin apa beliau bertanya, “Mbaknya sudah selesai kuliah, ‘kan? Sekarang sudah kerja atau kuliah lagi?”
Bukan. Pasti bukan tanpa ada angin apa. Mungkin karena beberapa waktu belakangan melihat saya yang termasuk range usia produktif tapi siang bolong masih pake kaos dan celana pendek bermain dengan anak-anak kecil di sekitar rumah alih-alih berpakaian formal dan sedang duduk di salah satu kubikel kantor.

Setelah membeli es, saya menjadi banyak bertanya pada diri sendiri. Apa itu bekerja? Di mana seseorang idealnya melakukan pekerjaan?

Saya hidup di tengah masyarakat yang mempunyai persepsi bahwa bekerja idealnya adalah duduk di belakang meja, di dalam sebuah kubikel, di sebuah kantor, dan selalu berbaju rapi. Tolong koreksi saya jika salah.
Apakah itu salah? Bagi saya, idealisme seperti itu tidak salah.
Berpendapat kan hak setiap warga negara. Termasuk memiliki pemikiran ideal mengenai hal seperti ini (asal tidak menyinggung makna pancasila, nanti bisa kena kasus lho. Kan repot.).

Kalau saya, saya punya pemikiran ideall tersendiri mengenai ‘bekerja’.
Terlepas dimana saya nanti akan bekerja atau akan berbusana seperti apa, saya tidak terlalu mempedulikannya. Maksudnya, apakah di kantor atau lapangan, asal sesuai dengan kemampuan dan di sana saya bisa mengembangkannya… juga tidak berbatas apakah dalam bekerja saya akan dituntut untuk terus berbusana rapi dan formal atau boleh mengenakan baju kasual, asal saya nyaman dengan lingkungan kerjanya… saya tidak terlalu mempermasalahkannya.
Tentu saja, mampu, kembang, dan nyaman di sini memiliki arti yang luas.

Barangkali postingan ini cukup tidak bijak dipublikasikan ketika saya sedang mengajukan lamaran pekerjaan. Karena bisa saja, tim perekrut menemukan postingan ini dan menimbulkan penilaian negatif pada aplikasi yang sedang saya ajukan.

Pada bulan April nanti, masuk bulan kedelapan sudah saya lulus dari universitas dan sejak saat itu pula saya aktif mencari pekerjaan. Apakah sudah dapat? Kalau yang dimaksud dengan bekerja di sebuah kantor, maka jawabannya tentu saja belum.

Sudah entah berapa lamaran yang saya ajukan dari masa semester akhir sebelum sidang sampai hari ini. Saya sampai cukup terbiasa mengerjakan psikotes-psikotes yang diajukan oleh perusahaan sebagai salah satu tahapan rekrutmennya.
Sejauh ini tidak ada masalah mengerjakan soal-soal psikotes. Favorit saya adalah ketika mengerjakan tes koran. Karena saya begitu amazing dengan ketahanan saya pribadi ketika bekerja. Saya bahkan heran mengapa bisa menambah kertas koran untuk dikerjakan, padahal bagi saya, saya menghitung dengan santai bahkan cenderung sering kali salah hitung sehingga menimbulkan banyak coretan/koreksi jawaban.

Masalah utama saya adalah… kalau tidak gugur di interview ya di medical check up test.
Berbicara MCU test, saya tidak bisa berbicara banyak. Tidak ada yang bisa saya bicarakan malah. Karena 2 kali saya MCU untuk sebuah BUMN, di tahap tersebut saya selalu gagal. Padahal saya sudah mengusahakan yang terbaik. Sayangnya, hasil MCU tidak dipublikasikan dan tidak bisa diminta oleh pelamar, sehingga saya tidak tahu alasan mengapa saya gugur. Kecuali, saya melakukan MCU yang sama untuk kepentingan pribadi.

Selain itu, saya juga sudah beberapa kali menghadiri interview. HRD atau user, keduanya sudah pernah saya jalani.
Sebelum interview, saya selalu mengecek aplikasi/CV saya kembali, in case untuk recall apa saja yang tertulis di sana. Saya juga bertanya kepada beberapa teman tentang bagaimana mereka bisa sukses melewati tahapan interview. Kemudian menambah referensi dengan membaca tips & trik menembus interview yang sudah banyak diposting di blog/website. Sehingga saya mengerti bagaimana sikap yang sebaiknya saya tunjukan kepada penginterview (apa ya sebutan dalam Bahasa Indonesianya? Pemberi interview?), juga saya mengerti sebaiknya menjawab dengan tata bahasa yang seperti apa. Karena bisa saja pencari kerja terjebak/terkecoh oleh pertanyaan pemberi interview.

Tapi saya masih belum berhasil mendapatkan pekerjaan.
Oh, pernah hampir, namun ada yang saya tolak karena bagi saya feedbacknya tidak sesuai. Perlu dicatat bahwa sebutuh apapun kamu mencari pekerjaan, sebagai pencari pekerjaan, kamu harus bijak dalam memilih pekerjaan yang kamu inginkan. Pelajari terlebih dahulu apakah pekerjaan tersebut worth it to apply. Termasuk feedback-nya ketika nanti kamu sudah diterima menjadi karyawan di sana. Pantaskah? Cocokkah? Kamu yang bisa menganalisanya.

Kemudian karena pertanyaan mengenai ‘mengapa saya belum mendapat pekerjaan’ ini muncul, kenangan tentang percakapan saya dengan Mas Fendi pun juga ikut menguar.

Pernah saya singgung di posting sebelumnya, saya terlibat pada sebuah percakapan dengan Mas Fendi tentang ‘pekerjaan yang sesuai’. Saya bercerita dan beliau memberikan masukan dengan khasnya. Cukup kaget juga dengan apa yang terlontar dari diri saya… sebuah motivasi samar namun kuat…

“Aku nggak tau kenapa Tuhan nyuruh aku nunggu selama ini. Aku tahu maksud-Nya baik, aku hanya belum tahu apa.”

Kurang lebih kalimatnya demikian. Intinya demikian.

Sampai saat ini saya masih mencari alasan mengapa Tuhan meminta saya menunggu selama ini. Saya masih belum tahu pasti. Ada beberapa kemungkinan, namun belum jelas. Ronanya masih samar dan saya terus mencari kemungkinan-kemungkinan yang dapat menjelaskannya.

Karena saya yakin, cara terbaik untuk menebak masa depan adalah dengan merencanakannya.

Saat ini yang paling tidak mustahil untuk dilakukan adalah mengasah kemampuan menulis dan berbahasa saya. Saya tidak berhenti menulis. Saya tidak berhenti memperdalam bahasa (Indonesia dan asing). Saya tidak berhenti penasaran dengan seni dan media. Saya tetap berusaha produktif dengan fasilitas dan kesempatan yang ada.

Saya tidak akan berhenti berkarya.
Karena bagi saya, semua yang saya lakukan adalah untuk melayani Tuhan.
Oleh karena itu, saya tidak mau berkarya setengah-setengah.
Berkarya dengan menulis, menggarap sebuah project dengan sedikit-banyak orang, atau dengan cara lain… semuanya dilakukan untuk melayani Tuhan.

“Sekarang Mbaknya sudah bekerja atau bagaimana?”

“Sudah, Pak, tapi saat ini saya bekerja di rumah sebagai penulis lepas.”

Akhir kata, please support kami dengan follow blog ini, like, share, dan comment. Karena dengan support kalian, kami akan lebih semangat dalam berkarya.

May GOD bless youuuu!

Sharoncitara

PS: belakangan ini saya menulis beberapa cerpen yang rencananya akan saya kirim ke majalah. Doakan semoga ada yang berhasil dipublikasikan yaaa.
Oh, ya, dan mengenai Eccedentesiast, saya masih belum mendapatkan informasi dari pihak penerbit. Kalau Music//Lyric dan Petrichor masih selalu on progress. Tiap hari tidak pernah berhenti berprogres. Semoga tahun ini keduanya bisa selesai dengan baik. Aminin berjamaah ya 😀

Advertisements

Author:

I’m author of “Senja di Ujung Lensa” dalam Antologi Cerpen dan Foto 'Menyebrang Pada Sebuah Jendela'. diterbitkan oleh @indiebookcorner. Antologi cerpen kedua saya berjudul 'Cinta Terpendam', karya saya yang dimuat di sana berjudul “Hujan di Antara Kita“, diterbitkan oleh @mozaikindie. Cari SHARONCITARA di sejumlah sosial media untuk dapat terus berkomunikasi dengan saya. may GOD bless you and be the light! happy reading, Sharoncitara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s