Posted in FOOD, MAIL TIME!

Secangkir Teh di Awal Musim Semi. | MAILTIME! #5

Lagi embuh.

Setelah sekian-kian lama enggak up date tentang MAILTIME!, sekarang saya tergerak untuk menulis kategori ini lagi. *tabur bunga sakura*

Well, sebelum kita jalan lebih lanjut, saya mau cerita dulu…
MAILTIME! yang selama ini saya tulis (beserta surat atau barang-barang yang saya ceritakan di dalamnya) adalah berasal dari teman-teman saya yang tinggal dari luar negeri. Bukannya sombong, tapi ini karena saya tidak punya sahabat pena dari negeri sendiri. Alasannya sudah jelas, berkirim surat sudah tidak lagi menjadi kebiasaan dan/atau tradisi bagi masyarakat Indonesia. Padahal, teman-teman, kalau kalian mencoba berkirim surat seperti yang saya lakukan ini, kalian akan menemukan sebuah kebahagiaan dan kesenangan tersendiri. Ada rasa deg-degan menunggu balasan, ada rasa senang ketika kita mendapati pak pos mengetuk pintu rumah kita dan memberikan sepucuk surat atau sebuah paket besar.

Kalau saya pribadi, karena saya berkirim surat dengan teman-teman dari luar negeri, saya merasa rasa cinta saya kepada Indonesia menjadi lebih dalam lagi. Tidak dipungkiri mereka akan meminta penjelasan mengenai A to Z about Indonesia. Saya yang awalnya tidak banyak mengerti, mau tidak mau membaca tentang Indonesia. Saya yang awalnya hanya penikmat budaya, sekarang menjadi seseorang yang mau belajar untuk berbagi.

Saya rasa, kalau kantor pos mau menggalakan program pen pal to overseas (dan kemudian berhasil), akan banyak membuka kesempatan bagi pariwisata Indonesia untuk dikenal lebih luas di kancah internasional. Terlebih lagi, dengan surat menyurat, maka value dari pesan yang disampaikan terasa lebih personal. Dan ajakan personal sih biasanya lebih…. hmm, apa ya bahasa yang tepat… lebih mudah disambut?

Setelah menulis beberapa paragraf di atas, rasanya saya pengen mengajukan diri menjadi “Duta Kantor Pos 2016”.

Eh, duta seperti itu ada tidak, sih? Hehehe :p

Dan untuk barang-barang dan/atau surat yang saya terima, murni inisiatif mereka. Saya tidak pernah meminta ataupun memberi kode. Boro-boro deh ngasih kode, ngartiin surat dan mau gimana balesnya aja mikir sampe kayang sambil sikap.
Jadi nggak mungkin deh saya ngodein barang-barang mahal di MAILTIME! biar bisa dijual. EH!

Lanjut ke musim semi.

Beberapa hari yang lalu New York Journal membuka kesempatan bagi para pembacanya untuk mengirimkan foto bunga sakura. Foto-foto tersebut nantinya akan dipilih oleh editor dan karya terbaik akan dipublikasikan melalui media tersebut. Sepertinya sih begitu.

Teman-teman saya yang sekarang sedang menimba ilmu di Jepang pun tak kalah dengan mengupdate foto bunga sakura yang mulai bermekaran melalui akun instagramnya.

Nah, saya…
karena saya belum pernah menginjak negeri sakura. Belum pernah melihat bagaimana rupa pohon sakura. Dan pastinya belum pernah melakukan hanami (kegiatan yang sangat-sangat-sangat ingin sekali saya lakukan). Tapi setidaknya saya pernah diberi Teh Bunga Sakura.

Teh bunga sakura ini seperti teh celup pada umumnya.
Eh, beda, ding.

Kain untuk menyaring ampas bunga sakuranya tidak berbahan kertas, namun lebih mirip dengan kain tile, namun lebih kecil lubang-lubang seratnya. Kalian tahu kain tile? Kain yang seperti jaring-jaring nyamuk yang dipasang di tempat tidur, tapi lebih halus.

Teh bunga sakura ini juga memiliki wangi yang khas. Wanginya cenderung lebih lembut dan tidak ‘nyegrak’.
Kalau untuk rasa, bagi mereka yang terbiasa dengan teh indonesia kualitas menengah bawah, mungkin akan sedikit tidak menyukai rasa teh sakura.
Tapi kalau mau mencoba rasa baru di lidah, justru inilah teh dengan kualitas yang baik. Masih jauh berbeda sih dengan rasa teh sakura botolan yang banyak dijual di minimarket.

After effect dari teh ini… apa ya?
so far yang saya rasakan sih lebih rileks. Lebih enteng ketika diminum sambil menulis atau pekerjaan-pekerjaan lain yang membutuhkan waktu lembur.
Rasanya juga ke badan lebih sehat, karena saya lebih suka menyeduhnya dengan sedikit gula atau malah tanpa gula sama sekali.
Well, dasarnya memang jarang menyeduh teh dengan dosis gula berlebih, sih, yaaa :p

———–

Setelah saya baca ulang sebelum benar-benar diposting, saya merasa…
hmm, I’m not good in writing review. Mungkin karena postingan ini saya tulis tanpa kerangka, jadi, ya, amburadul seperti ini. Tapi, sungguh, saya butuh belajar menulis review produk. Kalau review film atau buku sudah sering dilatih (terutama saat masih sekolah), tapi yang satu ini masih butuh banyak latihan.

Well, kalau begitu saya undur diri mau latihan nulis review hahaha 😀

Akhir kata, teman-teman bisa memberi support dengan follow blog ini, like, share, dan comment. Karena dengan memberi support, pasti akan membakar semangat siapapun untuk lebih baik dan terus lebih baik dalam berkarya.

May GOD bless youuuu!

Sharoncitara

PS: if you wanna be my pen pal, please kindly contact me via twitter. My ID is @Sharoncitara.

 

Advertisements

Author:

I’m author of “Senja di Ujung Lensa” dalam Antologi Cerpen dan Foto 'Menyebrang Pada Sebuah Jendela'. diterbitkan oleh @indiebookcorner. Antologi cerpen kedua saya berjudul 'Cinta Terpendam', karya saya yang dimuat di sana berjudul “Hujan di Antara Kita“, diterbitkan oleh @mozaikindie. Cari SHARONCITARA di sejumlah sosial media untuk dapat terus berkomunikasi dengan saya. may GOD bless you and be the light! happy reading, Sharoncitara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s