Posted in PAMIT, Words

PAMIT

Beriak bergulung-gulung,

pikiran kalut bertabrak ombak.

Senja tak terlihat,

tertutup kabut pada dua manik mata.

Mendung menggantung,

gerimis mulai turun,

namun pasir basah hanya karena pasang,

sedang pipi sebab berlinang.
Kamu kenapa, aku bagaimana?

Bergumul dengan luka,

berdoa,

bertanya,

bertaruh rindu pada rasa.

Berharap waktu bawa cara perbaiki semua.

Apakah sia-sia?
Angin menderu,

berseteru di telingaku,

beradu ego dengan kemelutku.

Apakah ini jawaban atas doa yang kuselip tiap malam?
Bukan sibukmu,

bukan engganmu,

melainkan aku yang tak lagi jadi alasanmu.
Lucu.

Aku tak pernah jadi alasanmu.
Nona rindu tuan acuh,

Nona pergi, akankah tuan cari?
Ah, ombak datang lagi,

bergulung manja antara jemari.

Pasir menarik, bawaku jauh dari tepi.

Inikah saatku pergi?
Aku pamit.

Tuan, aku pamit.

Kakiku melangkah semakin ke tengah,

tapi tak lihatkah tanganku terjulur ke belakang? Raihlah.

Advertisements

Author:

I’m author of “Senja di Ujung Lensa” dalam Antologi Cerpen dan Foto 'Menyebrang Pada Sebuah Jendela'. diterbitkan oleh @indiebookcorner. Antologi cerpen kedua saya berjudul 'Cinta Terpendam', karya saya yang dimuat di sana berjudul “Hujan di Antara Kita“, diterbitkan oleh @mozaikindie. Cari SHARONCITARA di sejumlah sosial media untuk dapat terus berkomunikasi dengan saya. may GOD bless you and be the light! happy reading, Sharoncitara.

One thought on “PAMIT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s