Posted in Words

Seiring Berjalannya Waktu.

Apakah kamu mengingat hari pertama kita berjumpa?
Berjabat tangan dan saling ucap nama.
Dan seiring berjalannya waktu,
hai berekor apa kabar.
Seiring berjalannya waktu,
topik sederhana berkembang jadi topik rumit.
Dan seiring berjalannya waktu,
dengan sadar, kubuka kartuku
satu per satu.
Satu sesuatu yang jarang berlaku.
Pada kawan pun.
Dan seiring berjalannya waktu,
tanpa sadar,
terbuka di depanku lebih dari kartu.
.
Ada yang telah lama tertutup rapat,
ditemukan anak kuncinya.
Diketahui sandinya.
.
Kupikir tak apa, tak mengapa.
Karena seiring berjalannya waktu yang telah lalu,
kukenal kamu sebagai aku dalam lain raga.
Satu jiwa.
.
Tapi, seiring berjalannya waktu itu salah.
Kamu bukan lain aku.
Kamu adalah orang asing penenteng cermin.
Pantulanmu bias,
dan yang kulihat selama ini aku seorang.
.
Lihat.
Seiring berjalannya waktu sedang tertawaiku.
Katanya, “Seiring berjalannya waktu, kamu akan tahu.”

Advertisements

Author:

I’m author of “Senja di Ujung Lensa” dalam Antologi Cerpen dan Foto 'Menyebrang Pada Sebuah Jendela'. diterbitkan oleh @indiebookcorner. Antologi cerpen kedua saya berjudul 'Cinta Terpendam', karya saya yang dimuat di sana berjudul “Hujan di Antara Kita“, diterbitkan oleh @mozaikindie. Cari SHARONCITARA di sejumlah sosial media untuk dapat terus berkomunikasi dengan saya. may GOD bless you and be the light! happy reading, Sharoncitara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s