Posted in LIRIK

Ruang Sendiri – Tulus.

Beri aku kesempatan tuk bisa merindukanmu
Jangan datang terus
Beri juga aku ruang bebas dan sendiri
Jangan ada terus
Aku butuh tahu seberapa kubutuhkanmu
Percayalah rindu itu baik untuk kita

Pagi melihatmu menjelang siang kau tahu
Aku ada di mana sore nanti
Tak pernah sekalipun ada malam yang dingin
Hingga aku lupa rasanya sepi
Tak lagi sepi bisa kuhargai

Baik buruk perubahanku tak akan kau sadari
Kita berevolusi
Bila kita ingin tahu seberapa besar rasa yang kita punya
Kita butuh ruang

Pagi melihatmu menjelang siang kau tahu
Aku ada di mana sore nanti
Tak pernah sekalipun ada malam yang dingin
Hingga aku lupa rasanya sepi
Tak lagi sepi bisa kuhargai

Kita tetap butuh ruang sendiri-sendiri
Untuk tetap menghargai, oh, rasanya sepi

Pagi melihatmu menjelang siang kau tahu
Aku ada di mana sore nanti
Tak pernah sekalipun ada malam yang dingin
Hingga aku lupa rasanya sepi

Pagi melihatmu menjelang siang kau tahu
Aku ada di mana sore nanti
Tak pernah sekalipun ada malam yang dingin
Hingga aku lupa rasanya sepi
Tak lagi sepi bisa kuhargai
Tak lagi sepi bisa kuhargai

 

PS: Pertama dengar teaser lagunya, saya pikir lagu ini akan membawa cerita tentang hubungan jarak jauh (LDR), namun setelah saya lihat official lirik video dan meresapi setiap kalimatnya, ternyata lebih kepada lagu untuk pasangan yang posesif dan/atau mereka yang selalu bertemu.

 

PS #2: Saya setuju, setiap pasang manusia (apapun hubungan di antaranya) membutuhkan ruang sendiri untuk saling merindu. Percayalah, rindu itu baik.

Advertisements
Posted in LIRIK, RANDOM

Ngomongin lirik lagu Tulus: PAMIT.

Tubuh saling bersandar ke arah mata angin berbeda
Kau menunggu datangnya malam, saat kumenanti fajar
Sudah coba berbagai cara agar kita tetap bersama
Yang tersisa dari kisah ini, hanya kau takut kuhilang
Perdebatan apapun menuju kata pisah
Jangan paksakan genggamanmu, izinkan aku pergi dulu
Yang berubah hanya tak lagi kumilikmu.
Kau masih bisa melihatku. Kau harus percaya, kutetap teman baikmu.
Sudah coba berbagai cara agar kita tetap bersama
Yang tersisa dari kisah ini, hanya kau takut kuhilang
Perdebatan apapun menuju kata pisah
Jangan paksakan genggamanmu, yang berubah hanya tak lagi kumilikmu.
Kau harus percaya, kutetap teman baikmu.
Izinkan aku pergi dulu, yang berubah hanya tak lagi kumilikmu.
Kau masih bisa melihatku. Kau harus percaya, kutetap teman baikmu.

Hai, setelah dua minggu enggak update blog (well, beberapa hari lalu emang sempet posting pendek banget tapi itu nggak masuk itungan update sih buat saya).
Maapkeun ya karena belakangan ini emang banyak banget yang harus dikerjakan. Deadline ketat dan urusan pribadi juga lagi banyak banget yang harus dilakukan. Hmmm, puji Tuhan walaupun masih unemployed tapi kegiatan-kegiatan masih banyak antre untuk dilakukan, jadi nggak garing-garing amat ini hidup saya.

Oke, jadi kali ini mau bahas tentang single terbaru dari Tulus.
Kalau kalian update tentang Tulus (atau mungkin kalian adalah Teman Tulus?), pastu sudah tau kalau Abang Gajah yang satu ini baru saja merilis single terbarunya yang berjudul PAMIT.
Selama sepekan menjelang rilisnya lagu tersebut, saya pribadi sempat dibuat penasaran oleh foto yang diposting oleh Tulus melalui account instagramnya (@tulusm). Karena beliau hanya memosting counting down dengan tambahan informasi berjumlah 2 kata: Tulus dan Pamit.
Ada apa?
Saya sempat bingung. Saya pikir, Tulus akan berpamitan menuju luar negeri menyusul debut lagu Sepatu-nya yang di-remake dengan dibuatkan versi lirik bahasa Jepang.
Ya, saya bingung aja, karena pada saat mendekati tanggal rilis, koneksi internet di rumah memang sering putus-nyambung, jadi saya pikir, saya sudah terlewat informasi penting.

Kemudian, terjawablah pertanyaan saya dengan munculnya postingan official lirik video Pamit di account YouTube Tulus.
Pertama kali dengar lagu tersebut, saya langsung jatuh cinta dengan konsep musik dan pasti… LIRIKNYA!

I mean, siapa sih yang mendengar lagu Tulus dan tidak jatuh cinta dengan diksi pada lirik lagu-lirik lagunya? Unik dan menarik. Salah satu yang menjadikannya alasan mengapa saya tidak pernah bosan memutar playlist lagunya setiap kali saya sedang menulis.

Kemabli pada PAMIT, seperti yang bisa dibaca pada deretan lirik yang sudah dipaparkan di atas. Menurut teman-teman, apa yang langsung terlintas di pikiran kalian?

Kalau saya, sih, sebuah hubungan yang (dulunya) tak lagi memiliki irama yang sama. Karena dalam satu hubungan, baiknya dua hati telah sepakat untuk berjalan searah. Namun pada kisah ini, keduanya telah ‘bersandar ke arah mata angin berbeda’.

Lagu ini mengingatkan saya pada pengalaman pribadi seseorang yang saya kenal, ketika di setiap kondisi kritis hubungannya, haya ia yang berjuang mati-matian mempertahankan apa yang dapat dipertahankan. Dan baginya, yang dapat dipertahankan waktu itu adalah seluruhnya. Semuanya. Yang penting masih bersama.

Sama seperti kebanyakan manusia (mungkin kamu juga)…
Manusia tidak takut untuk mengakhiri sesuatu, mereka hanya takut memulai semuanya dari awal.
Manusia tidak takut mengakhiri sebuah hubungan, yang mereka takutkan adalah kehilangan kebiasaan.
Mereka yang telah terikat lama pada sebuah hubungan (yang tidak sehat), mati-matian mempertahankan hubungan tersebut, karena takut untuk memulai sebuah hubungan dari awal lagi, meski konsekuensinya terus menderita sakit.
Capek lho, putus-kenalan sama orang baru-deket-pacaran-putus-kenalan sama orang baru-repeat.
Belum lagi kalau kenalan trus malah kena PHP. Berkali-kali. Bukan curhat.

Makanya, ada sebagian orang yang memilih untuk memperjuangkan apa yang masih bisa diperjuangka. Dengan kalimat motivasi yang terus dibisikan dalam hati: setiap orang pasti bisa berubah. Aku percaya dia akan berubah.

Boleh, kok, punya anggapan kayak gitu. Bebas. Tapi, ya, coba dipikirkan lagi. Pakai logika yang realistis. Apa benar bisa berubah?
*kompor*

Pada akhirnya, seseorang yang saya kenal itu dan pasangannya memutuskan untuk berpisah karena keduanya sama-sama tidak menemukan apa yang masih bisa dipertahankan. Keduanya mundur perlahan, termasuk status hubungannya. Mundur dari kekasih menjadi sahabat. Em, teman. Em, a stranger with all his/her secrets.

Tapi apa kemudian keduanya tidak bahagia?
Justru salah besar.
Keduanya malah lebih bahagia setelah saling meregangkan genggaman.
Rasa takut yang dulu muncul, takut akan kehilangan dan sebagainya, ternyata kalah oleh kerelaan dan keikhlasan untuk menjalani hari-hari tanpanya.

Benar kata pepatah bahwa terkadang sesuatu yang kita genggam terlalu erat justru dapat melukai kita.
Sama seperti pemandangan, lebih bagus ketika kita melihatnya dari jauh. Alam tampak lebih megah.
Seperti itulah mereka kini, saling memandang dari jauh karena jika dari dekat akan terasa berbeda.

———————————————————————-

Yak, sepertinya cukup disekiankan dulu bahasannya.
Saya ada banyak stok cerita yang pengen di-share ke blog, tapi nulisnya nunggu waktu selo yaa.. Dan saya juga masih ada utang MAIL TIME! 2 minggu. Semoga dalam waktu dekat ini bisa share MAIL TIME! #4 yaaaa

Oh iya, saya juga mau bilang terima kasih buat temen-temen yang udah nyempetin liat video puisi saya di bit.ly/puisibatas. Kalau belum, langsung cek aja di link itu. Jangan lupa comment, like, share, dan subscribe channel YouTube saya yaaaa… sampai sekarang belum ada subscribernya nih 😦

Akhir kata, please support kami dengan follow blog ini, like, share, dan comment. Karena dengan support kalian, kami akan lebih semangat dalam berkarya.

May GOD bless youuuu!
Sharoncitara.

Posted in LIRIK, RANDOM

jadi ceritanya lagi pesimis, lalu pas lagi merem… tiba-tiba nyanyi lagu ini

TIADA PERNAH KURAGUKAN
KASIH SETIA-MU YA TUHAN
SETIAP WAKTU DALAM HIDUPKU
TAK PERNAH KAU TINGGALKAN

MESKI LANGIT TAMPAK SURAM
AWAN GELAP PUN MENGHADANG
HADAPI BADAI LEWATI GELOMBANG
TAK PERNAH KAU TINGGALKAN DIRIKU

REFF :
WALAU SERIBU REBAH DI SISIKU
KAU TETAPLAH ALLAH PENOLONGKU
WALAU SEPULUH RIBU REBAH DI KANANKU
TAK KAN KU GOYAH S’BAB YESUS SERTAKU

terimakasih, Bapa :’)